Sosipatra dan Otoritas Perempuan dalam Neoplatonisme Abad ke-4 M
Sosipatra dari Efesos mengganggu anggapan umum tentang filsafat kuno sebagai dunia laki-laki. Dalam kisah Eunapios, dia muncul sebagai guru filsafat, ibu, istri, dan figur perempuan berotoritas dalam Neoplatonisme abad ke-4 M.
FILSAFATAGAMA & RITUALSEJARAH


Ketika mendengar istilah filsuf kuno, banyak orang segera membayangkan nama-nama laki-laki. Nama-nama seperti Sokrates, Plato, Aristoteles, atau Plotinos, biasanya muncul lebih cepat dalam ingatan daripada sosok perempuan mana pun. Sosipatra dari Ephesos, lalu menjadi penting karena dia mengganggu gambaran itu. Dalam karya Eunapios dari Sardis, Vitae philosophorum et sophistarum (Kehidupan Para Filsuf dan Sofis) dia digambarkan sebagai guru filsafat, istri, ibu, dan tokoh yang dihubungkan dengan pengetahuan nubuat (Eun. VPS 6.6.5–6.9.24). Itu cukup untuk menunjukkan bahwa sejarah filsafat kuno lebih rumit daripada anggapan umum yang terlalu mengidentikkannya dengan figur laki-laki.[1]
Namun, ada kesulitan mendasar ketika kita hendak mengenal Sosipatra. Kesulitan itu pertama-tama muncul pada tingkat sumber. Kita hampir tidak memiliki apa-apa tentang Sosipatra selain apa yang disampaikan Eunapios. Tidak ada karya filosofisnya yang bertahan, tidak ada kumpulan surat, dan tidak ada sumber tandingan yang seimbang.[2] Karena itu, tulisan tentang Sosipatra tidak bisa diperlakukan sebagai biografi biasa, seolah-olah melaporkan kisah historis secara langsung. Hal yang mungkin dilakukan adalah melihat bagaimana Eunapios membangun sosok Sosipatra, lalu menimbang apa yang masih bisa dipahami dari konstruksi tersebut. Dengan demikian, pembahasan ini tidak hanya tentang Sosipatra sebagai tokoh historis, tetapi juga Sosipatra sebagai figur yang dibentuk dalam proyek intelektual Eunapios.
Oleh karena itu, sebagai konteks sebelum membahas Sosipatra lebih jauh, penting untuk memposisikan VPS bukan sebagai catatan sejarah yang netral, karena karya itu berada di dalam tradisi biografi intelektual akhir antik (250–750 M). Dalam tradisi itu, hidup filsuf disusun sebagai panutan dan penyambung mata rantai transmisi pengetahuan,[3] misalnya dalam Vita Plotini, Porphyrios dari Tirus menceritakan hidup Plotinos sekaligus menarik garis hubungan intelektual antara Ammonios Sakkas, Plotinos, dengan dirinya sendiri (Porph. VP 3.1–6; 4.1–6.4; 24.1–3). Kemudian dalam Vitae sophistarum, Philostratos membuka karyanya dengan membedakan cara kerja filsuf dan sofis, lalu menjelaskan perkembangan sofisme sebagai tradisi intelektual (Philostr. VS 1.480–482; 1.511). Sejalan dengan itu, karya Eunapios dapat dilihat sebagai bagian dari upaya menata warisan intelektual pagan dalam dunia akhir antik yang makin didominasi tradisi Kristen.[4]
Konteks berikutnya adalah Neoplatonisme itu sendiri. Istilah “Neoplatonisme” adalah istilah modern untuk menyebut tradisi Platonik akhir antik, yang dalam historiografi modern, lazim dimulai dari Plotinos, murid Ammonios Sakkas.[5] Singkatnya secara ajaran, tradisi ini memposisikan Yang Satu sebagai prinsip tertinggi realitas, lalu memahami Akal dan Jiwa sebagai tingkat-tingkat realitas berikutnya (Plot. Enn. V.1.8; V.2.1; VI.9.3; VI.9.10–11). Akan tetapi, untuk membaca Sosipatra, yang penting bukan uraian lengkap tentang metafisika Neoplatonisme, melainkan cara tradisi ini memahami filsafat. Dalam dunia akhir antik, filsafat lebih dari kumpulan doktrin, ia adalah cara hidup.[6] Filsuf berarti orang yang belajar, mengajar, menata jiwa, dan berada dalam tradisi guru-murid (Porph. VP 3.1-6). Oleh karena itu, otoritas seorang filsuf tidak semata ditentukan oleh tulisan, juga dari garis intelektual, praktik pengajaran, dan bentuk hidup yang dijalaninya.
Konteks lainnya yang perlu dijelaskan adalah perubahan penting yang dilakukan Iamblikhos terhadap Neoplatonisme. Menurut Plotinos, jalan penyatuan dengan Yang Satu dibayangkan sebagai perjalanan batin. Jiwa harus menata dirinya dan naik melalui pemahaman filosofis sampai mendekati prinsip tertinggi realitas (Plot. Enn. VI.9.10–11). Bagi Iamblikhos, manusia tidak cukup hanya berpikir atau berkontemplasi, karena jiwa manusia telah masuk sepenuhnya ke kehidupan bertubuh dan tidak memiliki akses langsung pada yang ilahi. Oleh sebab itu, jiwa membutuhkan tindakan ilahi yang diterima melalui θεουργία (theourgia). Istilah ini berarti “kerja para dewa”, yakni laku ritus yang memakai doa, simbol, benda suci, dan tindakan ritual untuk menata jiwa agar mampu menerima tindakan ilahi (Iamb. Myst. 1.12; 1.15; 2.11; 5.17; 5.26).[7] Dengan latar ini, Sosipatra lebih mudah dipahami sebagai Neoplatonis yang berada dalam lingkungan Neoplatonisme bercorak Iamblikhos.[8]
Satu konteks lain yang perlu dijelaskan adalah garis transmisi Neoplatonisme bercorak Iamblikhos dan posisi Sosipatra di dalamnya. Dalam VPS, Eunapios berupaya menata warisan Iamblikhos melalui tokoh-tokoh seperti Aedesios, Eustathios dari Kapadokia, Maximus dari Efesus, dan Khrysanthios dari Sardis. Dari sudut pandang itu, Sosipatra menjadi sangat menarik karena dia tidak masuk dalam rantai transmisi secara langsung, sebab dia sendiri bukan murid dari Iamblikhos. Dia terhubung melalui perkawinannya dengan Eustathios dan kemudian melalui kedekatannya dengan Aedesios (Eun. VPS 6.4.7; 6.8.3-6; 6.9.1-2). Justru karena itu, kehadirannya dalam narasi Eunapios dapat dilihat sebagai cara memperluas gagasan tentang garis keberlanjutan filsafat (yang sebelumnya dibayangkan hanya melalui sekolah, garis guru-murid, figur laki-laki) juga melalui rumah tangga, pengajaran, dan praktisi theourgia.[9]
Baru setelah semua konteks itu berdiri, kisah hidup Sosipatra dapat dipahami dengan lebih tepat. Sosipatra berasal dari keluarga berada di daerah sekitar Kaystros, dekat Efesus. Ketika masih belia, dua orang tua misterius datang ke tanah milik ayahnya. Mereka meminta agar anak itu diserahkan kepada mereka untuk diasuh selama lima tahun. Sebagai gantinya, mereka tidak menjanjikan uang, tetapi sesuatu yang lebih aneh. Tanah itu, kata mereka, akan memberi hasil yang melimpah dengan sendirinya dan anak itu kelak tidak akan menjadi perempuan biasa, bahkan akan menjadi lebih dari manusia biasa (Eun. VPS 6.6.8–12). Ayahnya menerima syarat itu. Sejak usia sekitar lima sampai sepuluh tahun, Sosipatra dibesarkan oleh kedua orang tua itu. Eunapios mengatakan bahwa mereka membawanya masuk ke dalam ajaran rahasia yang tidak diketahui orang lain (Eun. VPS 6.7.1–2).
Ketika ayahnya datang kembali, dia menemukan anaknya telah berubah. Sosipatra digambarkan bersinar dengan aura kesakralan, lalu menceritakan dengan tepat semua hal yang baru dialami ayahnya dalam perjalanan pulang, seolah-olah dia hadir di sana. Ketika ditanya siapa mereka sebenarnya, kedua orang tua itu hanya menjawab secara samar bahwa mereka tidak asing dengan kebijaksanaan yang disebut Khaldaik (Eun. VPS 6.7.1–5).[10] Sesudah masa pembentukan itu berakhir, mereka menyerahkan kepada Sosipatra busana ritus, perlengkapan ritual, dan sejumlah buku, lalu menyuruh agar semuanya disimpan dalam peti yang disegel (Eun. VPS 6.7.6–8). Setelah itu, tulis Eunapios, Sosipatra tidak lagi memiliki guru manusia lain, tetapi karya para penyair, filsuf, dan orator selalu ada di bibirnya, dan dia menjelaskan dengan mudah hal-hal yang bagi orang lain hanya dapat dipahami dengan susah payah (Eun. VPS 6.8.1–2).
Episode penting berikutnya dalam hidup Sosipatra adalah perkawinannya dengan Eustathios, salah satu murid Iamblikhos (Eun. VPS 6.4.7; 6.8.3–6). Eunapios menulis bahwa dia menubuatkan kepada Eustathios bahwa mereka akan memiliki tiga anak dan bahwa suaminya itu akan lebih dahulu pergi, memperoleh tempat tinggal yang pantas sesudah mati, serta hanya memiliki waktu lima tahun lagi untuk mengabdikan diri pada filsafat (Eun. VPS 6.8.3–6). Sesudah kepergian Eustathios, Sosipatra kembali ke Pergamon. Di sana Aedesios merawat dirinya dan anak-anaknya dan dari rumahnya sendiri dia mengajar filsafat (Eun. VPS 6.9.1–2). Eunapios menulis bahwa para murid Aedesios juga datang mendengarnya, sebab mereka menghormati ketelitian Aedesios, tetapi sangat memuliakan pengajaran Sosipatra yang terilhami.
Sesudah itu, kisah hidup Sosipatra mencapai salah satu puncaknya ketika Philometor, yang terpana oleh kecantikan dan kecerdasannya, jatuh cinta kepadanya. Sosipatra sendiri mula-mula merasa ada sesuatu yang aneh, sebab ketika Philometor berada di dekatnya dia tampak seperti orang biasa, tetapi ketika dia pergi, hatinya terasa terluka dan tersiksa. Karena itu dia meminta Maximos mencari tahu apa yang sedang menimpanya. Melalui ritus pengurbanan, Maximos menemukan bahwa Philometor telah memakai ritus pemikat cinta, lalu dia melakukan ritus tandingan untuk meniadakannya. Setelah itu, Sosipatra tidak hanya terbebas dari pengaruh itu, tetapi juga menjelaskan dengan tepat apa yang baru saja dilakukan Maximos, lengkap dengan doa, waktu, dan tanda-tanda yang muncul dalam ritus tersebut (Eun. VPS 6.9.3–10). Maximos pun jatuh tersungkur dan menganggapnya memiliki kodrat ilahi. Tidak lama kemudian, saat sedang memberi uraian tentang jiwa di hadapan para muridnya, Sosipatra mendadak masuk ke dalam keadaan ekstatis dan menggambarkan kecelakaan Philometor di jalan menuju Pergamon seolah-olah dia melihatnya sendiri (Eun. VPS 6.9.11–14). Porphyrios memberi kisah yang paralel dalam Vita Plotini, ketika serangan ritual terhadap Plotinos justru berbalik kepada pelakunya (Porph. VP 10.1-8).
Makrina berguna dibahas singkat di sini sebagai pembanding untuk melihat bagaimana otoritas perempuan direpresentasikan dalam sumber-sumber akhir antik. Dalam Vita S. Macrinae, Gregorios dari Nyssa sejak awal menggambarkan Makrina sebagai perempuan yang melampaui kodrat manusia biasa dan kisahnya diklaim berdasarkan pada pengalaman keluarganya sendiri, bukan pada kabar orang lain (Greg. Nyss., Macr. 1, GNO VIII/1, 371.5–21). Dia disebut sebagai παρθένος (parthenos) atau perawan, kakak perempuan dari Basilius dari Kaisarea dan Gregorios sendiri, sosok yang membentuk lingkungan keluarganya di Pontos ke dalam hidup asketis, membimbing para perempuan di sekitarnya, dan mencapai tingkat hidup yang oleh Gregorios katakan sebagai ideal philosophia Kristen (Greg. Nyss., Macr. 1–2, 5–6, 11, GNO VIII/1, 371–372, 374–378, 381–383). Dalam De anima et resurrectione, representasi itu diperkuat ketika Gregorios menyebut Makrina sebagai “saudari dan guru” dan menjadikannya lawan bicara utama dalam percakapan tentang jiwa, kematian, dan kebangkitan (Greg. Nyss., An. et res., GNO III/3, 1.4–10).[11]
Dari perbandingan itu, Sosipatra dapat dilihat sebagai bentuk lain dari otoritas perempuan akhir antik. Jika Gregorios membangun otoritas Makrina melalui keperawanan, asketisme, philosophia Kristen, dan bimbingan rohani, maka Eunapios membangun otoritas Sosipatra melalui perkawinan, rumah tangga, pengajaran filsafat, nubuat, dan theourgia (Eun. VPS 6.8.3–6; 6.9.1–14). Perbedaan ini menunjukkan bahwa otoritas perempuan akhir antik tidak hadir dalam satu bentuk tunggal, tetapi dibentuk oleh bahasa, genre, dan kepentingan penulis yang merepresentasikannya.
Dengan demikian, sosok penting Sosipatra bagi sejarah filsafat menjadi lebih mudah dilihat. Dia mengingatkan bahwa sejarah filsafat kuno tidak hanya dipenuhi oleh penulis yang karyanya lestari pada kita, tetapi juga oleh guru, pelanjut garis intelektual, dan figur yang bekerja melalui pengajaran, murid, dan bentuk hidup yang mereka jalani. Selain itu, dia juga mengingatkan hal lain yang tak kalah penting, bahwa tipisnya jejak perempuan dalam arsip tidak selalu berarti tipis pula peran mereka dalam kehidupan intelektual.[12] Hal yang sering hilang justru teks, jalur pewarisan, atau perhatian tradisi kemudian terhadap mereka. Dalam hal itu, Sosipatra menjadi penting, selain kisah hidupnya yang menarik, juga karena dia memaksa kita membaca sejarah filsafat kuno dengan cara yang lebih teliti dan juga lebih rendah hati.
Catatan Kaki
[1] Addey menunjukkan bahwa perempuan dalam tradisi Platonik kerap terpinggirkan justru ketika mereka memiliki peran religius. Lihat Crystal Addey, “Diotima, Sosipatra and Hypatia: Methodological Reflections on the Study of Female Philosophers in the Platonic Tradition” in Women and the Female in Neoplatonism, ed. Jana Schultz and James Wilberding (Brill, 2022), 9-15, 23-24.
[2] Johnston menegaskan bahwa deskripsi Eunapios adalah satu-satunya deskripsi Sosipatra yang kita miliki. Lihat Sarah Iles Johnston, “Sosipatra and the Theurgic Life: Eunapius Vitae Sophistorum 6.6.5–6.9.24,” in Reflections on Religious Individuality: Greco-Roman and Judaeo-Christian Texts and Practices, ed. Jörg Rüpke and Wolfgang Spickermann (De Gruyter, 2012), 99–100.
[3] Arthur P. Urbano, The Philosophical Life: Biography and the Crafting of Intellectual Identity in Late Antiquity (The Catholic University of America Press, 2013), 1–3.
[4] David F. Buck, Eunapius of Sardis (DPhil diss., Oxford University, 1977), 58-77, 134-163; Robert J. Penella, Greek Philosophers and Sophists in the Fourth Century A.D.: Studies in Eunapius of Sardis (Francis Cairns, 1990), 141; Han Baltussen, “Eunapius’ Lives of Philosophers and Sophists: Was He Constructing ‘Pagan Saints’ in the Age of Christianity?” in Eastern Christianity and Late Antique Philosophy, ed. Eva Anagnostou-Laoutides and Ken Parry (Brill, 2020), 239–241.
[5] Untuk Neoplatonisme sebagai istilah modern dan tradisi Platonik akhir antik yang lazim dikaitkan dengan tokoh Plotinos, lihat Pauliina Remes, Neoplatonism (Routledge, 2014), 1–3
[6] Untuk filsafat kuno sebagai cara hidup, lihat Pierre Hadot, Philosophy as a Way of Life, ed. Arnold I. Davidson, trans. Michael Chase (Blackwell, 1995), 49-70. Lihat juga Urbano, The Philosophical Life, 1–3, 129–140, yang menekankan bahwa filsafat akhir antik dipahami sebagai dogmata, yakni ajaran, sekaligus politeia, yakni laku hidup.
[7] Untuk tafsir modern terhadap konsep Neoplatonisme corak Iamblikhos dan praktik theourgia-nya, lihat Gregory Shaw, Theurgy and the Soul: The Neoplatonism of Iamblichus, 2nd ed. (Angelico Press/Sophia Perennis, 2014), 5, 53–54, 92–104, 125–127.
[8] Johnston dan Addey memandang Sosipatra berada dalam baris Neoplatonisme bercorak Iamblikhos, sebab Eunapios sendiri menghubungkannya secara tak langsung melalui Eustathios dan Aedesios, theourgia, dan kebijaksanaan Khaldaik. Lihat Johnston, “Sosipatra and the Theurgic Life,” 110–115; Crystal Addey, “Sosipatra: Prophetess, Philosopher and Theurgist: Reflections on Divination and Epistemology in Late Antiquity,” in Prophets and Profits: Problems in Ancient Divination and its Reception, ed. Richard Evans (Routledge, 2018), 144–149.
[9] Johnston menilai bahwa salah satu tujuan utama Eunapios adalah memuji Iamblikhos dan menelusuri rantai transmisinya, tetapi Sosipatra sendiri tidak masuk ke jalur itu secara langsung. Lihat Johnston, “Sosipatra and the Theurgic Life,” 107-109.
[10] Eunapios dalam VPS tidak menjelaskan lebih jauh apa yang dia maksud dengan kebijaksanaan Khaldaik. Akan tetapi dalam pembacaan modern, ungkapan ini biasanya dikaitkan dengan Orakel Khaldea dan Neoplatonisme akhir antik, terutama yang bercorak Iamblikhos. Majercik menjelaskan Orakel Khaldea sebagai kumpulan ayat heksameter yang dikaitkan dengan Julianos dari Khaldea dan/atau Julianos sang Theourgos. Remes menyebut ajaran Orakel Khaldea sebagai salah satu sumber penting Neoplatonisme akhir antik yang diterima Iamblikhos sebagai wahyu ilahi. Meskipun Johnston mengingatkan bahwa kedua orang tua yang menyebut istilah Χαλδαϊκῆς dalam VPS tidak otomatis merujuk pada Orakel Khaldea. Lihat Sarah Iles Johnston, ‘Sosipatra and the Theurgic Life’ 103–105; Ruth Majercik, The Chaldean Oracles: Text, Translation, and Commentary (Brill, 1989), 1–3; Remes, Neoplatonism, 15–16.
[11] Untuk representasi Makrina yang lebih luas, lihat juga Greg. Nyss., Epist. 19, GNO VIII/2, 64.14–65.9. Di sana Makrina disebut sebagai “guru kehidupan kami”, “ibu setelah ibu”, digambarkan dikelilingi paduan suara para perawan, dan menjalani kehidupan layaknya malaikat. Lihat pula Greg. Naz., Epitaphium 120, PG 38, 75–76, yang menggambarkan kemasyhuran Makrina dalam lingkungan Kapadokia.
[12] Addey, “Diotima, Sosipatra and Hypatia: Methodological Reflections on the Study of Female Philosophers in the Platonic Tradition”, 9-15, 23-34.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Primer
Gregorius Nazianzenus. Carmina. In Patrologiae Cursus Completus, Series Graeca, vol. 38, edited by J.-P. Migne, cols. 75–76. Paris: Migne, 1857.
Gregory of Nyssa. De anima et resurrectione. In Gregorii Nysseni Opera, vol. III/3, Opera Dogmatica Minora, Pars III, edited by Andreas Spira. Brill, 2014.
Gregory of Nyssa. Epistulae. In Gregorii Nysseni Opera, vol. VIII/2, edited by Georgius Pasquali. 2nd impression with addenda et corrigenda. Brill, 1998.
Gregory of Nyssa. Vita sanctae Macrinae. In Gregorii Nysseni Opera, vol. VIII/1, Opera Ascetica, edited by Werner Jaeger, Johannes P. Cavarnos, and Virginia Woods Callahan, 347–414. Brill, 1952.
Iamblichus. De mysteriis Aegyptiorum. Edited by Gustav Parthey. Leipzig: Teubner, 1857.
Philostratus and Eunapius, The Lives of the Sophists. Translated by Wilmer Cave Wright. Loeb Classical Library 134. Harvard University Press, 1921.
Plotinus. Plotini Opera. Edited by Paul Henry and Hans-Rudolf Schwyzer. 3 vols. Clarendon Press, 1964–1982.
Porphyry. Vita Plotini. In Plotini Opera, vol. 1, edited by Paul Henry and Hans-Rudolf Schwyzer. Oxford: Clarendon Press, 1964.
Sumber Sekunder
Addey, Crystal. “Diotima, Sosipatra and Hypatia: Methodological Reflections on the Study of Female Philosophers in the Platonic Tradition.” In Women and the Female in Neoplatonism, edited by Jana Schultz and James Wilberding, 9–35. Brill, 2022.
Addey, Crystal. “Sosipatra: Prophetess, Philosopher and Theurgist: Reflections on Divination and Epistemology in Late Antiquity.” In Prophets and Profits: Problems in Ancient Divination and Its Reception, edited by Richard Evans, 144–159. Routledge, 2018.
Baltussen, Han. “Eunapius’ Lives of Philosophers and Sophists: Was He Constructing ‘Pagan Saints’ in the Age of Christianity?” In Eastern Christianity and Late Antique Philosophy, edited by Eva Anagnostou-Laoutides and Ken Parry. Brill, 2020.
Buck, David F. Eunapius of Sardis. DPhil diss., University of Oxford, 1977.
Hadot, Pierre. Philosophy as a Way of Life: Spiritual Exercises from Socrates to Foucault. Edited by Arnold I. Davidson. Translated by Michael Chase. Blackwell, 1995.
Johnston, Sarah Iles. “Sosipatra and the Theurgic Life: Eunapius, Vitae Sophistorum 6.6.5–6.9.24.” In Reflections on Religious Individuality: Greco-Roman and Judaeo-Christian Texts and Practices, edited by Jörg Rüpke and Wolfgang Spickermann, 99–117. De Gruyter, 2012.
Majercik, Ruth. The Chaldean Oracles: Text, Translation, and Commentary. Brill, 1989.
Penella, Robert J. Greek Philosophers and Sophists in the Fourth Century A.D.: Studies in Eunapius of Sardis. Francis Cairns, 1990.
Remes, Pauliina. Neoplatonism. Ancient Philosophies. Routledge, 2014.
Shaw, Gregory. Theurgy and the Soul: The Neoplatonism of Iamblichus. 2nd ed. Angelico Press/Sophia Perennis, 2014.
Urbano, Arthur P. The Philosophical Life: Biography and the Crafting of Intellectual Identity in Late Antiquity. The Catholic University of America Press, 2013.
John William Godward, Idleness (1900). Cat minyak di atas kanvas, 111 × 73 cm. Lokasi koleksi kini tidak teridentifikasi. Sumber/foto: Art Renewal Center; Sotheby’s, lot 25, London, 12 Juli 2007. Sumber: Wikimedia Commons.