Komedi sebagai Kritik Kekuasaan (dan Risikonya): Mens Rea, Aristophanes, dan Sokrates

Dari Aristophanes di Athena hingga Pandji Pragiwaksono di Indonesia, memperlihatkan bagaimana komedi berfungsi sebagai medium kritik penting dalam demokrasi, juga sekaligus peringatan agar tidak jatuh menjadi alat fitnah

MITOLOGI & SASTRAKAJIAN MODERNHUKUM & POLITIK

Muhammad Farhan Ghibran

1/7/20268 min read

Ada tuduhan-tuduhan yang muncul belakangan terhadap komedi yang menyenggol politik. Katanya, komedi itu alat pembentuk opini, penggiring persepsi, dan pemicu kegaduhan. Dalam versi yang lebih halus, “ketawa boleh, tapi jangan lupa berpikir.” Masalahnya, semua tuduhan ini bukannya mengajak publik memeriksa substansi kritik yang disampaikan komedi, justru memindahkan diskusi ke kecurigaan atas motif pembuatnya dan medium kritiknya. Perlu diakui, komedi memang memengaruhi opini.

Namun sayangnya, hampir semua bentuk komunikasi politik juga memengaruhi opini. Termasuk membuat status di media sosial yang menuduh komedi politik sebagai “pembentuk opini, penggiring persepsi, dan pemicu kegaduhan.” Jadi, pengaruh bukan argumen pembeda. Hal yang membedakan adalah arah dan cara pengaruh itu bekerja. Komedi bisa menjadi propaganda, bisa menjadi fitnah, tetapi juga bisa menjadi latihan bagi nalar publik untuk menguji kekuasaan.

Mens Rea, stand-up spesial Pandji Pragiwaksono, persis berada pada fungsi terakhir itu. Dia tidak terutama meminta penonton “setuju”, melainkan melatih penonton menguji. Pertama, dia mereset relasi kuasa lewat kalimat “rakyat atasan presiden” yang mengembalikan posisi warga sebagai pemberi mandat, bukan penonton (Mens Rea, 00:26:07–00:26:40). Kedua, dia menggeser fokus dari figur ke fungsi jabatan melalui kritik “Lapor Mas Wapres” yang disindir seperti layanan customer service. Padahal pejabat tinggi semestinya bekerja pada ranah gagasan dan penyelesaian masalah, bukan sekadar menerima keluhan (Mens Rea, 00:52:50–00:53:07). Ketiga, dia membongkar slogan “yang penting bisa kerja” dengan pertanyaan yang tajam, “kalau bisa kerja tapi tidak bisa berpikir?” yang artinya sederhana. Pemujaan pada “kerja” tanpa nalar dan perencanaan hanya melahirkan kebijakan yang terlihat bergerak, tetapi arahnya ngawur (Mens Rea, 00:48:54–00:48:57).

Tiga contoh ini cukup untuk melihat pola besarnya. Pandji sedang membiasakan audiens melakukan tiga jenis pemeriksaan yang paling penting dalam demokrasi. Pertama, pemeriksaan mandat, yaitu siapa memberi kuasa kepada siapa dan karena itu, siapa yang berhak menuntut pertanggung jawaban. Kedua, pemeriksaan fungsi, yaitu apakah jabatan dijalankan sesuai tugas strukturalnya atau hanya dijadikan panggung pencitraan. Ketiga, pemeriksaan rasionalitas, yaitu apakah tindakan negara didorong oleh nalar kebijakan atau sekadar kerja-kerja reaktif tanpa gagasan.

Kalau kritik seperti ini dibalas dengan “komedi itu pemicu kegaduhan”, maka kita perlu bertanya balik. Kegaduhan yang mana? Kegaduhan tanpa substansi atau kegaduhan karena seseorang memaksa publik memeriksa hal-hal yang selama ini dilewatkan? Di sini terlihat ironi dari nasihat “ketawa boleh tapi jangan lupa berpikir” Pada komedi politik yang bekerja baik, berpikir justru terjadi lewat tawa, karena tawa membuat dalih kekuasaan kehilangan wibawa dan jadi tampak telanjang. Bagian ini penting sebagai jembatan ke satu tradisi lama yang sering dilupakan. Dalam demokrasi Athena, komedi tidak semata hiburan, tetapi salah satu arena tempat warga menilai perang, demagog, dan logika kebijakan. Aristophanes, dengan segala keterbatasan dan risikonya, memperlihatkan bagaimana tawa dapat berfungsi sebagai mekanisme kontrol publik.

Akharneis: Negara Memilih Perang, Warga Memilih Berhenti

Akharneis (Orang-orang Akharnia) dipentaskan pada tahun 425 SM di tengah fase awal Perang Peloponnesos. Thukidides (2.14-17) mencatat bahwa ketika Sparta mulai menyerang Attika, orang Athena mengikuti strategi Perikles dengan memindahkan keluarga dan harta dari desa ke dalam kota, yang sebenarnya berat bagi mereka karena telah terbiasa hidup di pedesaan. Dampaknya Athena menjadi sesak, orang tinggal di tempat-tempat darurat, dan ketika wabah datang, kepadatan itu memperparah keadaan (Thuk. 2.52; bandingkan dengan Plut. Per. 34.4). Akharneis menerjemahkan konteks frustrasi warga itu ke panggung, lewat tokoh Warga yang Adil (Δικαιόπολις, Dikaiopolis), seorang warga biasa yang merindukan ladang dan perdamaian.

Dia datang ke sidang rakyat dengan harapan isu damai dibahas, tetapi yang dia temui justru Pnyx sepi dan sidang molor, sementara “urusan damai” tampak tidak menjadi prioritas (Aristophanes, Akh. 43–125). Karena negara terus memilih berperang, Dikaiopolis memilih menghentikannya sendiri dengan cara yang komikal, dia “membeli” gencatan senjata dan memparodikannya seperti anggur yang dicicipi, menolak yang masih “berbau perang” dan memilih yang panjang umurnya karena aromanya terasa seperti hidup normal (Aristophanes, Akh. 172-203). Aristophanes lalu menajamkan kritik dengan menghadirkan Khorus orang Akharnai yang mengejar Dikaiopolis sebab wilayah mereka dirusak dan kebun anggur mereka habis (Aristophanes, Akh. 210-240). Di tengah konflik itu, Dikaiopolis mengucapkan, terasa seperti suara Aristophanes sendiri, bahwa komedi bisa mengatakan yang benar, bahkan kalau mengejutkan penonton (Aristophanes, Akh. 500–508).

Jadi alur lakon ini sederhana tetapi politis, yaitu sidang yang menghindari perdamaian, warga yang nekat mencari perdamaian, massa yang marah karena menjadi korban perang. Komedi menjadi alat untuk menelanjangi kebiasaan negara mempertahankan perang meski rakyat sudah menderita.

Hippeis: Rakyat Diperalat oleh Politisi Licik

Hippeis (Pasukan Berkuda) dipentaskan pada 424 SM ketika perang dengan Sparta sudah berjalan lama dan tokoh-tokoh pendukung perang makin dominan di Majelis Rakyat. Thukidides (3.36) sendiri, dalam konteks debat Mytiline, menyebut Kleon sebagai “orang paling keras di Athena” dan “paling kuat pengaruhnya di kalangan rakyat” Hippeis memakai konteks itu untuk menyindir satu hal yang lebih memalukan dari perang itu sendiri, yaitu bagaimana rakyat bisa dikendalikan lewat sogokan, rayuan dan fitnah.

Alurnya dibuka di rumah Demos (δῆμος), tokoh rekaan yang mewakili rakyat. Dua budak, Demosthenes dan Nikias, mengeluh karena Demos baru saja membeli budak baru bernama Paphlagon, seorang penyamak kulit yang merupakan karikatur Kleon. Paphlagon di sini digambarkan sebagai seorang licik yang menguasai majikannya, yakni Demos, lewat trik murahan. Dia mengambil hasil kerja orang lain lalu mengaku itu jasanya, lalu menyanjung Demos, menyuapnya, dan setiap kali ada yang menentang dia langsung menuduh, mengancam, dan memfitnah (Aristophanes, Hip. 40-75). Dua budak itu lalu mencari orang yang lebih cocok untuk menang dalam permainan licik itu. Mereka menemukan penjual sosis di pasar, orang kasar dan tidak berpendidikan, lalu justru mengatakan bahwa untuk mengalahkan seorang yang bejat, dibutuhkan orang yang lebih bejat (Aristophanes, Hip. 190-300).

Sisa lakon menceritakan bagaimana Paphlagon dan penjual sosis berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling mengabdi pada Demos, yaitu dengan hadiah kecil, pujian, dan janji. Penjual sosis yang akhirnya menang, karena dia lebih pandai memainkan selera Demos. Puncaknya, Demos “direbus” dan dibuat muda kembali, simbol harapan bahwa rakyat bisa “pulih” dari kebiasaan ditipu dan kembali jernih dalam menilai (Aristophanes, Hip. 1310-1350).

Jadi kritik Hippeis sangat langsung. Aristophanes membongkar pola yang membuat politisi licik bisa berkuasa. Rakyat dibentuk menjadi majikan yang mudah dipuji, mudah takut, dan mudah digerakkan dengan hadiah kecil. Komedi lalu mempermalukan teknik manipulasi itu di depan publik, supaya mereka menertawakan, tak hanya orang tertentu, tetapi cara kerja kekuasaan yang merusak polis.

Eirene: Siapa yang Untung dari Perang?

Eirene (Perdamaian) dipentaskan pada 421 SM saat damai mulai dibayangkan sebagai opsi realistis, setelah perang menguras tenaga semua pihak kira-kira satu dekade. Thukidides (5.16) mencatat bahwa setelah kekalahan Athena di Amphipolis dan tewasnya Kleon dan Brasidas, dua tokoh yang paling keras menolak perdamaian, dorongan untuk berdamai justru menguat di antara dua kubu, yaitu Athena dan Sparta.

Perjanjian yang dikenal sebagai Perdamaian Nikias juga menekankan pendirian pilar-pilar perjanjian di ruang publik dan berbagai tempat di dunia Yunani, semacam pengumuman resmi bahwa komitmen damai ini serius (Thuk. 5.18-5.19). Dalam konteks itu Eirene membongkar siapa yang diuntungkan oleh perang, siapa yang dirugikan, dan bagaimana politisi membuat perang terasa normal.

Alurnya dimulai dari Trygaios, seorang petani, yang muak karena hidup warga biasa terus dirusak perang. Ia nekat terbang ke langit menunggang kumbang kotoran untuk menemui para dewa (Aristophanes, Eir. 80-100). Hermes menjelaskan bahwa para dewa sendiri sudah jengah terhadap orang Yunani yang terus memilih pertikaian. Polemos, personifikasi perang, lalu muncul membawa lesung raksasa. Polemos menggambarkan Yunani seperti bahan yang siap ditumbuk, lalu memanggil Kydoimos untuk mencarikan alu agar penghancuran itu berjalan sempurna.

Namun alat penghancurnya tidak lengkap. Alu yang diminta dari Athena tidak ada karena “si penumbuk” telah mati, sindiran yang mengarah pada Kleon (Aristophanes, Eir. 270). Ketika diminta dari Sparta alu mereka pun juga hilang, sindiran yang mengarah pada Brasidas. Kalau alat penghancur itu tidak lengkap, maka masih ada harapan menyelamatkan Eirene (Aristophanes, Eir. 280-290). Begitu Polemos lagi ke rumah untuk membuat alu sendiri, Trygaios segera mengajak warga biasa, petani, pedagang, perajin, dan imigran, untuk mengangkat Eirene keluar dari gua tempat dia dikurung (Aristophanes, Eir. 290-310).

Menjelang akhir, perajin alat tani datang bersyukur karena ketika damai kembali, arit dan barang-barang rumah tangga laku keras (Aristophanes, Eir. 1200). Sebaliknya, pedagang senjata, pembuat pelindung dada, terompet perang, tombak, datang mengeluh karena Eirene meruntuhkan mata pencaharian mereka. Trygaios membalas dengan mempermalukan alat-alat perang itu, misalnya menyarankan pelindung dada yang mahal digunakan sebagai pispot untuk buang air (Aristophanes, Eir. 1210-1260).

Jadi lakon ini menyindir, tidak hanya akibat moral dari perang yang membuat orang susah, tetapi juga alasan bertahannya perang, yaitu karena ada pihak-pihak yang diuntungkan dan mereka pintar menyulap kepentingan itu jadi kepentingan publik.

Lysistrata: Perempuan Memaksa Perang Berhenti

Lysistrata (Pembubar Pasukan) dipentaskan pada 411 SM, ketika Perang Peloponnesos sudah masuk fase yang jauh lebih genting ketimbang masa Akharneis dan Hippeis. Sebagaimana dicatat oleh Thukidides (7.87; 8.1), beberapa tahun sebelumnya Athena terpukul oleh kegagalan ekspedisi Sisilia, kerugian manusia dan materialnya besar, lalu posisi tawar mereka makin rapuh di tengah perang yang belum juga selesai. Dalam situasi seperti itu, perdamaian menjadi harapan sehari-hari. Lysistrata memanfaatkan latar ini untuk menyindir kebiasaan politisi yang membuat perang terasa normal, bahkan ketika semua orang merasa muak.

Alurnya dibuka dengan keluhan Lysistrata yang menunggu perempuan-perempuan Yunani datang rapat, tetapi mereka terlambat, sebab sibuk urusan rumah tangga dan jauh dari urusan polis (Aristophanes, Lys. 1-25). Begitu para perempuan dari berbagai kota berkumpul, Lysistrata menawarkan strategi agar perang berhenti yakni mogok seks sampai para laki-laki setuju berdamai. Mereka lalu bersumpah bersama-sama memakai minuman anggur (Aristophanes, Lys. 180-240). Strategi kedua yang lebih struktural, yaitu para perempuan menduduki Akropolis dan menutup akses ke perbendaharaan kota. Perang berjalan karena uang terus mengalir, maka cara menghentikan perang adalah dengan menyetop pendanaan (Aristophanes, Lys. 250-400).

Lalu muncul adegan pejabat laki-laki, yang biasanya disebut magistrat, datang untuk mengontrol kembali negara, tetapi justru dipermalukan. Dia dipakaikan atribut perempuan dan dipaksa mendengar ceramah tentang bagaimana perang menghancurkan rumah tangga, pernikahan, dan generasi muda (Aristophanes, Lys. 430-600). Puncak komedinya muncul ketika Myrrhine membuat suaminya, Kinesias, “hampir” mendapat yang dia mau. Namun selalu ditunda dengan alasan kecil, bantal, parfum, ranjang, sampai akhirnya dia ditinggal frustrasi (Aristophanes, Lys. 820-950). Menjelang akhir, para utusan Athena dan Sparta datang dalam kondisi memalukan, sama-sama “tak tahan”, dan negosiasi damai dipanggungkan sebagai sesuatu yang sebenarnya mudah jika ego diturunkan.

Jadi, Lysistrata di sini mengkritik dua hal sekaligus. Pertama, perang bertahan karena ada dukungan finansial dan institusional. Kedua, perang juga bertahan karena budaya maskulin yang membuat kompromi, yakni perdamaian, tampak sebagai hal yang hina. Aristophanes menyerang itu dengan memperlihatkan bagaimana laki-laki kehilangan kontrol atas dirinya, hanya karena nafsu seksual.

Nephelai: Satir yang Berubah Menjadi Fitnah

Namun, kekuatan komedi untuk mengatakan yang benar dan menyederhanakan masalah rumit menjadi tawa, ternyata memiliki sisi gelap. Dalam Nephelai (Awan-Awan) yang dipentaskan pada 423 SM, Aristophanes menggambarkan sosok Sokrates hingga nanti disalahpahami warga Athena. Dia menciptakan karikatur Sokrates sebagai ilmuwan gila, yang menggabungkan ciri-ciri filsuf alam (yang dianggap ateis) dan kaum sofis (yang mengajarkan retorika licik demi uang). Kisahnya dimulai dari Strepsiades yang pusing karena utang menumpuk akibat gaya hidup anaknya, Pheidippides, yang tergila-gila pada pacuan kuda. Dia datang ke Phrontisterion (Pondok Pikir) milik Sokrates untuk belajar teknik berdebat untuk memutarbalikkan fakta agar dia bisa menghindari tagihan utang (Aristophanes, Neph. 110-120).

Di panggung, dia ditampilkan sebagai ilmuwan aneh yang mengamati matahari sambil digantung di keranjang agar bisa berpikir tinggi (Aristophanes, Neph. 218-234). Dalam satu adegan, Sokrates mengoreksi ucapan Strepsiades tentang Zeus, lalu mengklaim bahwa bukan Zeus yang menurunkan hujan, melainkan dewi Awan dan yang memerintah semesta justru Pusaran (Aristophanes, Neph. 250–280; 367–380). Puncaknya adalah duel antara Argumen Baik melawan Argumen Buruk. Argumen Buruk menawarkan kemenangan retorika, kenikmatan, dan pembenaran gaya hidup yang malas disiplin, sementara argumen baik membela latihan, rasa malu, dan tata krama. Argumen Buruk yang akhirnya menang, sehingga seni debat Sokrates dianggap seni membenarkan yang salah (Aristophanes, Neph. 889–1114).

Akibatnya puluhan tahun kemudian, ketika Sokrates diadili pada 399 SM, dia kesulitan membela diri karena juri justru melihat sosok karikatur yang telah ditanamkan sejak kecil, alih-alih sosok asli Sokrates. Plato mencatat keluhan Sokrates dalam Apologia, yang menolak fitnah yang dilontarkan oleh penuduh lama, yang salah satunya adalah Aristophanes. Pertama, fitnah bahwa dia seorang filsuf alam, dia menegaskan itu bukan pekerjaannya (18b–19c; 33a–33d). Kedua, dia juga menolak label guru bayaran dan membedakan dirinya dari sofis yang memang menarik bayaran (19e–20c). Ketiga, ketika dituduh ateis sekaligus memperkenalkan daimones, dia menunjukkan kontradiksinya. Jika dia mengakui hal-hal ilahi atau daimones, maka mustahil dia sama sekali tidak percaya yang ilahi (27b–27d).

Komedi: Pedang Bermata Dua

Dari panggung Athena abad ke-5 SM hingga panggung stand-up Jakarta, fungsi politik dari komedi tetap sama, yakni latihan bagi nalar publik untuk menguji kekuasaan. Namun, Aristophanes menunjukkan bahwa komedi juga pedang bermata dua. Di satu sisi lewat Akharneis, Hippeis, Eirene, dan Lysistrata, ketika institusi macet dan pejabat bebal, komedi menjadi medium untuk membongkar kelicikan kekuasaan dan memberdayakan nalar publik. Seperti pada Mens Rea milik Pandji, komedi berhasil melatih kita memeriksa mandat, fungsi jabatan, dan kebijakan.

Namun, sisi gelap komedi terlihat pada kasus Nephelai. Di sini, komedi digunakan bukan untuk memeriksa kekuasaan, melainkan menciptakan karikatur orang lain, yang secara tak sadar berubah menjadi fitnah. Ada risiko besar di balik komedi, yaitu ketika tawanya terlalu keras hingga membuat proses berpikir berhenti. Ini seperti juri Athena yang gagal melihat sosok asli Sokrates sebagai lalat yang membangunkan kuda yang malas (kuda yang tak lain adalah warga Athena sendiri) agar tidak terlena oleh uang atau tubuh, melainkan merawat kualitas jiwa yang terbaik (Plato, Apologia 29d-31b). Akhirnya, mata mereka tertutup oleh bayangan "ilmuwan gila" buatan Aristophanes.

Patung dada Aristophanes. Karya marmer abad ke-1 Masehi yang tersimpan di Galeri Uffizi, Florence, Italia (Inv. 1914 n. 372). Foto: Alexander Mayatsky (2018). Sumber: Wikimedia Commons.